Inspirasi

Wahyu Faddila, Guru yang Tak Pernah Padam Bermimpi dan Berkarya

57
×

Wahyu Faddila, Guru yang Tak Pernah Padam Bermimpi dan Berkarya

Sebarkan artikel ini
Wahyu Faddila, Guru yang Tak Pernah Padam Bermimpi dan Berkarya
Wahyu Faddila dan dua lomba terakhir yang ia ikuti di Halo Penulis. (Dok. narasumber).

Detak Tribe – Nama lengkapnya Wahyu Faddila, tetapi lebih akrab dengan panggilan Pak WaY di sekolah. Pak WaY merupakan seorang guru di salah satu Sekolah Dasar Negeri di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Di sela kesibukan mengajar, ia aktif mengikuti berbagai lomba menulis yang Halo Penulis selenggarakan .

Wahyu pertama kali ikut lomba di Halo Penulis lewat Lomba Menulis Batch 5 Volume 3. Cerpennya yang berjudul “Meracik Bahagia Dapur yang Patah” termuat dalam buku Melukis Pelangi Selepas Hujan.

Setelah itu, ia mengikuti Lomba Menulis Batch 6 Volume 3 dengan cerpen “Aksara yang Menautkan Kita”, yang terbit dalam buku Bingkai Cerita Kita. Ia lalu mencoba genre lain lewat Lomba Puisi Batch 21 Volume 3. Puisinya, “Melangitkan Rindu, Mengekalkan Cinta”, termuat dalam buku Bahasa Cinta Untukmu.

Berikutnya ada Lomba Puisi Batch 23 Volume 3 dengan puisi “Satu Nama, Selamanya Luka” dalam buku Jejak Yang Masih Tersimpan. Ia juga mengikuti Lomba Menulis Batch 10 Volume 3 dengan cerpen “Pulang Itu Bernama Ikhlas” dalam buku Segala yang Lepas dari Kita. Event terbaru yang ia ikuti adalah Lomba Puisi Batch 2 Volume 4.

Wahyu mengaku belum pernah meraih gelar juara. Meski begitu, Wahyu bersyukur karena di setiap event Halo Penulis yang ia ikuti, namanya selalu masuk dalam jajaran penulis terpilih.

Inspirasi dari Kisah Hidup Sendiri

Sumber inspirasi tulisannya datang dari pengalaman hidupnya sendiri dan cerita-cerita teman di sekitarnya. Karya pertamanya di lomba menulis pun berangkat dari kisah pribadi, yakni kegagalannya meraih cita-cita menjadi seorang chef.

Wahyu terlahir dari keluarga yang tidak cukup mampu. Almarhum dan almarhumah orang tuanya tidak sanggup membiayai kuliah perhotelan yang ia impikan saat itu.

Ia pun mengikhlaskan cita-citanya dan beralih menjadi guru. Setelah lulus kuliah, ia sempat bekerja sebagai cook di salah satu hotel di kotanya, meski tidak bertahan lama. Kini ia menjalani hari-harinya sebagai guru.

Menyiasati Waktu di Tengah Kesibukan

Dengan jadwal mengajar yang padat dan tenggat lomba yang terus berjalan, Wahyu punya cara sendiri untuk membagi waktu. Ia menyempatkan menulis setiap selesai mengajar, bahkan saat menunggu jam absen pulang di sekolah.

Soal proses penyuntingan naskah, ia melakukannya pada malam hari agar tulisannya lebih menarik. Menurutnya, inspirasi kerap datang ketika ia duduk sendiri dan menepi sejenak dari aktivitas menulis.

“Begitu tiba malam hari, saya melakukan proses editing, agar tulisan saya lebih menarik, karena saya bisa mendapatkan inspirasi ketika duduk sendiri dan menepi sejenak dari kegiatan menulis,” katanya.

Hambatan dan Cara Mengatasinya

Menurut Wahyu, hambatan terbesar muncul saat ia benar-benar tidak menemukan ide cerita yang sesuai dengan tema lomba. Kepala yang terasa riuh dan tumpukan pekerjaan di sekolah juga kerap mengganggu.

Ada kalanya tulisannya terasa kurang rapi dan tidak memiliki rasa, bahkan ia sempat minder karena merasa karyanya belum cukup bagus untuk dipublikasikan.

Untuk menghadapinya, ia membaca beberapa buku demi membangkitkan semangat dan mengembalikan kepercayaan dirinya. Ia juga bermeditasi dengan menyingkir sejenak dari keramaian, lalu berefleksi pada dirinya sendiri.

Buku Tunggal dan Berbagi untuk Sesama

Ke depan, Wahyu ingin memiliki buku tunggal yang berisi karyanya sendiri, bukan antologi. Ia berharap bukunya dapat menjadi best seller dan dicetak berulang kali. Namun, hal sederhana yang ia anggap paling penting adalah pembaca ikut tersentuh, merasakan apa yang ia tuangkan dalam tulisan, dan memberikan respons yang baik.

Ada satu harapan lagi yang ia sampaikan. Wahyu ingin hasil penjualan bukunya disumbangkan kepada mereka yang membutuhkan, seperti korban bencana, anak-anak terlantar, dan sekolah-sekolah terpencil yang belum memiliki akses internet memadai. Dengan begitu, mereka tetap bisa membaca dan mendapatkan hiburan lewat buku.

Kesan terhadap Halo Penulis

Di penghujung wawancara, Wahyu Faddila menyampaikan terima kasih kepada Halo Penulis yang menurutnya telah menjadi jembatan untuk membagikan dan mempublikasikan karyanya. Lewat wadah ini, kemampuan menulisnya terasah dan keinginannya sejak duduk di bangku SMA untuk membuat sebuah buku pun terwujud.

Ia juga menilai tim Halo Penulis sangat detail dalam memberikan informasi maupun solusi terkait event yang berlangsung. Wahyu berharap Halo Penulis terus menjadi wadah bagi penulis muda untuk berkarya, sehingga semakin banyak orang yang melek literasi dan tidak melupakan arti sebuah buku fisik.

Harapan Besar untuk Literasi

Untuk dunia literasi Indonesia, Wahyu Faddila berharap anak-anak zaman sekarang tidak meninggalkan buku fisik di tengah gempuran buku digital, sebab menurutnya pengalaman membaca keduanya sangat berbeda. Ia juga berharap semakin banyak anak muda yang gemar membaca.

“Saya berharap anak-anak muda juga lebih banyak yang gemar membaca, karena saya sedih banyak sekali anak-anak yang belum lancar membaca di saat usianya harusnya sudah sangat lancar membaca,” pungkasnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.