Detak Tribe – Bagi sebagian orang, menulis adalah profesi. Namun, bagi Zahra Izzatul Wafiroh, menulis adalah cara mengisi jeda. Dari jeda itulah prestasi menulisnya mulai datang satu per satu.
Zahra adalah perempuan 19 tahun yang lahir dan tinggal di Sidoarjo, Jawa Timur. Setahun lalu ia baru saja merampungkan pendidikan di SMK, dan kini kesehariannya diisi dengan bekerja. Di luar pekerjaan itu, menulis cerpen menjadi hobi yang ia tekuni, terutama di saat-saat senggang.
Kesederhanaan latar belakangnya tidak menghalangi langkahnya di dunia kepenulisan. Ia telah mengikuti event Halo Penulis sebanyak dua kali, yakni LM Batch 1 Vol 3 dan LM Batch 4 Vol 3, dan pada keduanya berhasil meraih predikat penulis terpilih.
Membagi Waktu Pekerjaan dan Menulis
Menjaga ritme menulis di tengah kesibukan kerja bukan hal yang mudah, namun Zahra punya caranya sendiri. Ia memanfaatkan waktu istirahat kantor untuk mulai menggarap cerpen, lalu meneruskannya setelah pulang kerja bila belum selesai. Ia juga menetapkan tantangan pribadi, dengan menyelesaikan satu naskah dalam sehari.
Kuncinya ada pada persiapan. Sebelum event dimulai, ia sudah lebih dulu menata potongan-potongan ide yang muncul secara acak, sehingga ketika tema resmi diumumkan, ia tinggal merangkainya menjadi cerita yang padu.
Sumber Inspirasi
Sumber inspirasi Zahra sebagian besar berasal dari pengalaman yang ia jalani sendiri. Agar ceritanya tidak terasa datar, ia sengaja memberi porsi hiperbola pada beberapa bagian, dengan harapan pembaca bisa lebih merasakan emosi yang ia tuangkan dalam tulisan.
Meski begitu, proses menulis tidak selalu berjalan lancar. Writer’s block adalah tantangan yang kerap ia hadapi, bahkan ketika cerita yang ia tulis bersumber dari kisahnya sendiri. Untuk mengatasinya, Zahra mengandalkan dukungan teman-teman terdekat yang selalu siap memberikan masukan agar ia bisa kembali melanjutkan tulisannya.
Menulis Sejak 2019
Ketertarikan Zahra pada dunia kepenulisan tumbuh secara bertahap. Sejak awal 2019, ia sudah aktif sebagai pembaca di platform novel digital. Dari sana, muncul keinginan untuk mencoba membuat ceritanya sendiri.
Awalnya, ia penasaran apakah karyanya bisa mendapat perhatian seperti karya para penulis yang selama ini ia baca. Kecintaan itu semakin mantap sekitar tahun 2020.
Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 2023, ia memberanikan diri mengikuti lomba cerpen untuk pertama kalinya. Keputusan itu awalnya lahir dari iseng semata. Event tersebut muncul di beranda media sosialnya dan ia pun mendaftar tanpa ekspektasi besar.
Namun, hasilnya mengejutkan, ia meraih predikat penulis terfavorit. Sejak saat itu, ia mulai aktif mengikuti berbagai lomba kepenulisan, termasuk di luar Halo Penulis.
Pesan untuk Halo Penulis
Kepada para penulis pemula yang ingin mencoba peruntungan di lomba, Zahra Izzatul Wafiroh berbagi pandangannya. Ia menyarankan agar mereka rajin membaca karya penulis lain untuk memahami teknik menulis yang benar, terus berlatih, dan tidak ragu meminta bimbingan dari pihak yang lebih paham soal kepenulisan.
Menutup perbincangan, Zahra menyebut Halo Penulis sebagai wadah yang baik bagi para penulis yang ingin mengasah kemampuan sekaligus mendapat kesempatan untuk memperlihatkan karya mereka.
Ia juga menitipkan harapan untuk sastra Indonesia secara keseluruhan. Harapannya, semoga ekosistem sastra terus tumbuh, menghasilkan karya-karya yang berarti dari generasi muda bangsa, dan berhasil menggaet lebih banyak pembaca dari berbagai kalangan usia.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.











