Inspirasi

Zare dan Perjalanan di Balik Puisi Juara yang Lahir dari Inspirasi Tak Terduga

118
×

Zare dan Perjalanan di Balik Puisi Juara yang Lahir dari Inspirasi Tak Terduga

Sebarkan artikel ini
Zare dan Perjalanan di Balik Puisi Juara yang Lahir dari Inspirasi Tak Terduga
Zare, juara satu lomba menulis batch 20 volume 3 di Halo Penyair. (Dok. Detak Tribe).

Detak Tribe – Setiap karya yang menang di sebuah perlombaan biasanya menyimpan cerita tersendiri tentang bagaimana ia lahir. Hal itu pula yang dialami Annisa Shafa Azzahra atau akrab dengan nama pena A. Sa Zare.

Zare adalah seorang penulis muda yang berhasil menyabet juara satu pada Lomba Puisi Halo Penyair Batch 20 Volume 3. Keberhasilan tersebut ia raih setelah melewati proses yang menurutnya sendiri tidak terduga.

Asal-usul Nama Pena Zare

Nama pena A. Sa Zare yang ia gunakan tersebut ternyata memiliki cerita panjang di baliknya. Cita-citanya menjadi penulis sudah tumbuh sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Sejak saat itu pula ia mulai memikirkan nama pena yang cocok untuk dirinya.

Sempat terlintas nama “littlestone” yang menurutnya terdengar unik. Namun, belakangan ia merasa nama tersebut kurang pas untuk jadi identitas menulis. Ia pun mencoba menerjemahkan nama tersebut ke bahasa Jepang, hingga muncullah kata “Sazare”.

Karena ia merasa masih terdengar kurang khas, Zare kemudian menambahkan inisial nama depannya dan memenggal Sazare menjadi dua bagian. Dari hasil modifikasi itulah nama A. Sa Zare tercipta. Nama tersebut ia harapkan kelak dapat terkenal oleh orang-orang apabila dirinya berhasil menjadi penulis.

Selain menulis, kesehariannya ia isi dengan bekerja di sebuah minimarket yang sekaligus berfungsi sebagai kafe kecil dengan berbagai pilihan minuman dan camilan. Karena baru akan memulai kuliah tahun depan, waktu luangnya kerap ia gunakan untuk menulis dan membaca.

Berawal dari Keinginan Menguji Karya Sendiri

Ketertarikan Zare mengikuti lomba menulis muncul dari keinginannya untuk mengetahui sejauh mana kualitas tulisannya.

Bulan lalu, ia mencoba peruntungan pertama kali lewat Lomba Surat yang Nulis Quotes adakan. Namun, ia belum berhasil menjadi pemenang. Tanpa berkecil hati, ia kembali mencoba dengan mengikuti Lomba Puisi di Halo Penyair.

Kegagalan sebelumnya membuatnya tidak lagi berharap banyak saat mengirimkan puisi untuk lomba tersebut. Inspirasi puisinya bahkan datang dari sebuah anime yang ia tonton.

Zare mengaku, ia merasa kisah tokoh figuran dalam cerita tersebut lebih menarik daripada tokoh utamanya. Dari situlah muncul ide untuk menuliskan rangkuman kisah para tokoh figuran dalam bentuk puisi.

Saat namanya terpilih sebagai pemenang utama, Zare mengaku sangat terkejut. Ia bahkan menyampaikan rasa syukurnya karena karya yang hampir ia lupakan itu justru mendapat apresiasi besar dari pihak penyelenggara.

Proses Menulis yang Berlangsung Cepat

Zare sempat menceritakan bahwa ia hampir menyerah untuk kembali mengikuti lomba menulis. Namun, keputusannya berubah setelah ia melihat promosi Lomba Puisi Halo Penyair melalui story Instagram.

Menurutnya, unggahan itu terasa seperti sebuah kebetulan yang mengarahkannya untuk kembali mencoba. Karena tidak berekspektasi tinggi, tujuannya saat itu hanya sebatas mengirimkan karya, sehingga kemenangannya di Batch 20 Volume 3 datang di luar dugaan.

Menariknya, puisi yang membawanya menjadi juara ia tulis dalam waktu yang cukup singkat. Ia menulis sekitar pukul 21.00 hingga 23.00 malam, tepat setelah ia melihat konten promosi lomba tersebut.

Ia merasa tema dan judul buku yang menjadi acuan lomba saat itu sangat sesuai dengan gagasan yang sudah ada dalam pikirannya, sehingga proses penulisan berjalan lancar tanpa hambatan berarti.

Soal waktu menulis, Zare mengaku tidak memiliki jam khusus untuk berkarya. Ide bisa muncul kapan saja, baik ketika sedang di perjalanan, makan, mandi, siang, malam, bahkan saat bermimpi.

Begitu ide itu hadir, ia akan langsung mengambil ponsel atau catatan untuk menuliskannya, tanpa memedulikan apakah waktu tersebut sedang senggang atau tidak.

Pandangan Zare soal Berani Mencoba

Soal taktik khusus yang mengantarkannya meraih gelar juara, Zare menjawab dengan sebuah prinsip yang cukup filosofis. Prinsipnya adalah hanya memilih bertarung di medan yang sudah pasti dapat dimenangkan.

Menurutnya, prinsip ini mungkin terkesan seperti sikap seorang yang kalah, tetapi justru dari titik itulah proses belajar harus ia mulai.

Ia meyakini, seseorang perlu melalui masa-masa sebagai pecundang terlebih dahulu sebelum akhirnya memiliki cukup keberanian untuk menghadapi kekalahan di bidang yang bukan menjadi kekuatan atau gayanya sendiri.

Bagi Zare, keikutsertaannya dalam lomba ini merupakan langkah besar, mengingat selama ini ia cenderung menyembunyikan karya-karyanya dari orang lain. Ia menggambarkan langkah tersebut layaknya menaiki tiga anak tangga sekaligus, terlebih puisi romantis bukanlah ranah yang biasa ia tulis.

Pesan untuk Para Penulis Baru

Kepada penulis pemula yang masih ragu untuk mengirimkan karya pertamanya ke sebuah perlombaan, Zare berpesan agar tidak perlu berlama-lama berpikir dan segera saja mengirimkan karyanya. Ini karena rasa ragu justru hanya akan menambah tekanan yang tidak perlu.

Mengenai Halo Penyair, Zare menilai ajang ini telah membuka banyak peluang bagi siapa pun yang ingin karyanya terbit dan terkenal oleh banyak orang.

Ia juga menekankan bahwa kekalahan dalam satu batch bukan berarti kesempatan telah tertutup. Ini karena Halo Penyair terus membuka batch-batch baru yang menarik minat para penulis baru, sehingga dari sanalah penulis-penulis potensial dapat terlihat.

Ia berharap ke depannya Halo Penyair bisa terus menghadirkan tema-tema lomba yang lebih beragam, segar, dan menantang.

Harapan Besar untuk Sastra Tanah Air

Menutup wawancara, Zare menyampaikan harapannya agar masyarakat Indonesia semakin mencintai sastra dan gemar membaca. Ia menyayangkan tingkat literasi di Indonesia yang masih tergolong rendah, meski ia mengapresiasi semakin banyaknya masyarakat yang mulai menggemari karya sastra sebagai awal yang baik.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pemahaman melalui karya sastra saja belum cukup untuk membekali seseorang dalam menyaring informasi di dunia nyata, khususnya untuk teks-teks nonformal. Menurutnya, kemampuan menarik kesimpulan juga menjadi bagian tak terpisahkan dari literasi.

Ia pun mengajak anak muda yang kerap dicap minim literasi untuk mulai mengambil langkah kecil, seperti membiasakan diri menyimpulkan bacaan dalam kalimat singkat, karena literasi sejatinya bukan hanya soal seberapa banyak seseorang membaca.

“Jadi untuk anak muda yang selalu diejek minim literasi. Dari pada hanya membaca, coba buat langkah kecil seperti menyimpulkan bacaan dalam kalimat singkat. Karena literasi bukan hanya soal membaca,” pungkasnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.