Inspirasi

Hendra Fatoni dan Makna Medioker di Balik Proses Menulis

×

Hendra Fatoni dan Makna Medioker di Balik Proses Menulis

Sebarkan artikel ini
Hendra Fatoni dan Makna Medioker di Balik Proses Menulis
Hendra Fatoni dan buku Hidup Gini-Gini Aja? Dengerin Celotehan Kami Dulu!. (Dok. Detak Pustaka).

Detak Tribe – Di tengah tuntutan zaman yang serba penuh perbandingan, perasaan “kok hidup saya gini-gini aja” menjadi kegelisahan yang akrab bagi banyak orang. Perasaan itulah yang coba dibaca oleh Hendra Fatoni, seorang guru, dosen, sekaligus penulis asal Lombok Timur, melalui karyanya yang berjudul Hidup Gini-Gini Aja? Dengerin Celotehan Kami Dulu!.

Lahir dan besar di Desa Menceh, Sakra Timur, Lombok Timur, Hendra tumbuh dari lingkungan pedesaan yang sederhana. Perjalanan hidupnya kemudian membawanya merantau ke Yogyakarta selama kurang lebih sepuluh tahun untuk menempuh pendidikan S1 Sastra Indonesia dan S2 Manajemen Pendidikan di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa.

Kini, ia kembali ke tanah kelahirannya dan menjalani rutinitas sebagai pengajar di SMA Negeri di Kecamatan Sakra Timur serta dosen di salah satu kampus swasta di Lombok Timur.

Di luar perannya sebagai pendidik, Hendra juga menjalani kehidupan yang sangat dekat dengan keseharian banyak orang, yakni menjadi bapak muda dengan anak pertama yang baru berusia dua tahun.

Di sela kesibukan mengajar dan keluarga, ia masih menyempatkan diri menulis puisi, esai, serta artikel yang sesekali terbit di media seperti IDN Times. Baginya, menulis bukan sekadar profesi, melainkan kebutuhan batin.

Medioker Bukan Akhir, Tapi Proses

Dalam pandangan Hendra, istilah medioker kerap disalahpahami. Banyak orang memaknainya sebagai kegagalan atau tanda ketidakmampuan. Padahal, menurutnya, medioker justru merupakan fase yang sangat manusiawi.

“Medioker itu sebenarnya hal yang dekat dengan kita. Merasa biasa-biasa saja bukan berarti hal buruk atau kegagalan. Itu fase ketika kita masih berproses, masih belajar, masih mencari arah dan jati diri,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa kondisi tersebut bukanlah titik akhir, melainkan bagian dari perjalanan panjang menuju kematangan. Dalam dunia menulis, misalnya, perasaan belum jadi siapa-siapa atau merasa tulisannya belum bagus adalah hal yang lumrah. Justru, dari kesadaran itulah seseorang bisa terus bertumbuh.

Semua Pernah Merasa “Biasa-Biasa Saja”

Hendra tak menempatkan dirinya sebagai sosok yang sudah selesai dengan perasaan medioker. Ia mengakui bahwa hingga saat ini pun, ia masih sering merasa pencapaiannya biasa saja jika dibandingkan dengan orang lain.

“Semua orang pernah ada di fase itu. Bahkan sampai sekarang saya juga masih merasa gini-gini aja,” katanya jujur.

Namun, menurutnya, kesadaran berada di fase tersebut justru bisa menjadi alat evaluasi diri. Yang perlu dihindari adalah merasa nyaman dan berhenti berproses. Ia juga mengingatkan bahwa tidak ada kesuksesan yang datang secara instan—tidak tiba-tiba keren, tidak tiba-tiba viral.

Stigma Negatif yang Dibentuk Lingkungan

Stigma negatif terhadap medioker, lanjut Hendra, tidak lepas dari budaya yang tumbuh di sekitar kita. Masyarakat sering kali mengukur kesuksesan dari hal-hal eksternal, seperti pencapaian, pengakuan, dan hasil nyata yang tampak.

“Kita terlalu fokus pada hasil, bukan pada proses. Apalagi sekarang dengan media dan teknologi yang sudah tanpa batas, ukuran sukses itu kadang sudah tidak masuk akal,” jelasnya.

Akibatnya, fase medioker dipandang sebagai sesuatu yang memalukan, padahal sejatinya justru menjadi titik awal perubahan dan pertumbuhan.

Wajar dalam Dunia Menulis

Dalam dunia kepenulisan, Hendra menegaskan bahwa perasaan medioker adalah bagian tak terpisahkan dari proses kreatif. Baik penulis pemula maupun yang sudah berpengalaman, hampir semuanya pernah berada di titik di mana karya-karyanya terasa datar dan belum matang.

“Penulis-penulis besar itu juga tidak semua karyanya jadi masterpiece. Wajar kalau tulisan belum kuat, belum matang. Itu tanda kita masih butuh belajar lagi, meningkatkan konsistensi,” ungkapnya.

Menulis karena Suka, Bukan Sekadar Hasil

Soal menjaga motivasi, Hendra memilih untuk kembali pada alasan paling dasar, yaitu cinta pada proses menulis itu sendiri. Ia mengaku hingga kini masih merasa tulisannya belum menonjol, namun hal itu tidak membuatnya berhenti.

“Tujuan awal saya menulis karena saya suka. Saya ingin berbagi lewat tulisan. Orientasi saya bukan pada hasil, tapi menyayangi prosesnya,” katanya.

Baginya, progres kecil yang dilakukan secara konsisten tidak akan mengkhianati hasil. Selama terus berlatih, hasil akan datang dengan sendirinya.

Dari Tongkrongan Lahir Sebuah Buku

Salah satu karya terbarunya berjudul Hidup Gini-Gini Aja? Dengerin Celotehan Kita Dulu! terbit pada 2025. Buku ini lahir dari pengamatan sederhana terhadap obrolan-obrolan di tongkrongan—tentang usia, pencapaian, dan rasa tertinggal dari teman sebaya.

“Obrolannya itu selalu soal kenapa hidup kita gini-gini aja, teman sudah sampai mana, kita masih di sini. Dari situ muncul ide untuk menulis,” tuturnya.

Lewat buku tersebut, Hendra Fatoni mengajak pembaca untuk merenung, apakah harus nyaman di situ, atau mulai mengambil langkah untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Terus Menulis, Terus Berproses

Ke depan, Hendra memastikan bahwa rencana berkarya masih terus berjalan. Meski kesibukan kerap menyita waktu, ia berusaha tetap menulis setiap ada kesempatan.

“Yang penting nulis dulu. Soal mencetak atau menerbitkan, itu nanti. Sekarang masih proses,” pungkasnya.

Di tengah rasa “gini-gini aja” yang sering menghampiri, Hendra Fatoni memilih untuk terus berjalan. Merawat proses, menulis dengan jujur, dan percaya bahwa setiap langkah kecil tetap berarti.

Jika kamu sedang dalam fase merasa kehidupan “gini-gini aja” buku karya Hendra ini cocok untuk kamu baca. Kamu bisa memesan buku ini lewat toko resmi Detak Pustaka di detakpustakatoko.com.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.