Pendidikan

PWNU Jatim Perkenalkan Model Pendidikan Aswaja kepada Delegasi Bangsamoro Filipina

53
×

PWNU Jatim Perkenalkan Model Pendidikan Aswaja kepada Delegasi Bangsamoro Filipina

Sebarkan artikel ini
PWNU Jatim Perkenalkan Model Pendidikan Aswaja kepada Delegasi Bangsamoro Filipina
PWNU Jatim perkenalkan pendidikan Aswaja kepada Delegasi Bangsamoro Filipina. (ANTARA/HO-PWNU Jatim).

Detak Tribe – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim memperkenalkan model pendidikan Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) kepada delegasi Bangsamoro Autonomous Region in Muslim Mindanao (BARMM), Filipina, dalam kunjungan studi banding bidang pendidikan dan pesantren di Surabaya, Minggu (26/07/2026).

Wakil Sekretaris PWNU Jatim, Dr. KH M. Wafiyul Ahdi, mengatakan pesantren dan madrasah memiliki sifat yang independen karena pengelolanya umumnya memiliki lahan pertanian maupun perkebunan sebagai sumber pendukung.

Selain itu, madrasah saat ini juga menjalin sinergi dengan komite sekolah untuk membangun minimarket, sehingga pesantren dan madrasah dapat berkembang secara mandiri tanpa bergantung pada dukungan pemerintah.

“Pesantren dan madrasah itu bersifat independen, karena pemimpin pesantren umumnya memiliki sawah, kemudian madrasah saat ini juga bersinergi dengan komite sekolah untuk membangun minimarket, sehingga pesantren dan madrasah bisa berkembang independent tanpa support pemerintah,” kata Wafiyul.

Dalam pertemuan tersebut, Pengurus Wilayah Lembaga Pendidikan (PW LP) Ma’arif NU Jawa Timur memaparkan Kurikulum Identitas Aswaja dan Nahdlatul Ulama sebagai model pendidikan Islam moderat yang diterapkan di satuan pendidikan Ma’arif.

Wakil Ketua PW LP Ma’arif NU Jawa Timur, Evi Fatimatur Rusdiyah, menjelaskan kurikulum tersebut disusun sebagai upaya menghadirkan sistem pendidikan yang mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan identitas keislaman dan keindonesiaan.

“Kurikulum Identitas Aswaja dan NU itu kami susun sebagai ikhtiar menghadirkan pendidikan yang relevan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan jati diri keislaman dan keindonesiaan. Generasi muda harus memiliki karakter yang moderat, kritis, adaptif, sekaligus tetap kokoh memegang nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah,” ujar Evi.

Ia menjelaskan, bahan ajar itu merupakan seri pembelajaran inovatif berbasis Science, Technology, Engineering, Islamic Values, and Mathematics (STEIM) dengan konsep “MISI” yang dirancang sesuai karakter Generasi Z dan Generasi Alpha.

Pendekatan tersebut mengintegrasikan literasi digital, pembelajaran kolaboratif, serta pengembangan kemampuan berpikir kritis dan kreatif.

Selain itu, materi pembelajaran juga memuat strategi dakwah Islam Nusantara, kajian hukum Islam seperti ijtihad, taqlid, dan bahtsul masail, serta pedoman organisasi Nahdlatul Ulama yang mencakup Khittah Nahdliyah, Mabadi Khaira Ummah, hingga badan-badan otonom NU.

Kurikulum tersebut juga memperkuat tradisi amaliah Ahlussunnah wal Jamaah, seperti peringatan Maulid Nabi, Nisfu Sya’ban, tawassul, dan ziarah sebagai bagian dari pendidikan karakter.

Kunjungan delegasi BARMM tersebut merupakan bagian dari rangkaian studi banding yang sebelumnya diawali dengan peninjauan ke sejumlah pesantren dan lembaga pendidikan di Kabupaten Lamongan guna mempelajari sistem pendidikan Islam yang diterapkan di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.