Pendidikan

Lestari Moerdijat Soroti 8,01 Juta Sarjana Bekerja Tak Sesuai Kualifikasi

10
×

Lestari Moerdijat Soroti 8,01 Juta Sarjana Bekerja Tak Sesuai Kualifikasi

Sebarkan artikel ini
Lestari Moerdijat Soroti 8,01 Juta Sarjana Bekerja Tak Sesuai Kualifikasi
Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat. (Dok. MPR).

Detak Tribe – Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menilai pendidikan tidak boleh hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan logika pasar. Menurutnya, pendidikan juga harus mampu membentuk manusia yang kritis, berbudaya, serta memiliki karakter, sesuai dengan cita-cita pendidikan yang diwariskan Ki Hajar Dewantara.

Lestari mengatakan, sistem pendidikan Indonesia saat ini berada di persimpangan jalan, sehingga membutuhkan transformasi. Pendidikan, katanya, tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan teknis, tetapi juga harus membekali mereka dengan kapasitas berpikir dan kemampuan untuk mengaplikasikan ilmu yang dimiliki.

“Sistem pendidikan kita saat ini sedang berada di persimpangan jalan dan membutuhkan transformasi untuk tidak hanya menghasilkan lulusan dengan kemampuan teknis, tetapi juga kapasitas berpikir dan mampu mengaplikasikan ilmu mereka,” kata Lestari Moerdijat, Selasa (11/08/2026).

Sorotan tersebut disampaikan menyusul laporan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis (LPEM FEB UI) yang diterbitkan dalam Labor Market Brief Volume 7, Nomor 7, Juli 2026, ISSN 2808-2060.

Dalam laporan tersebut terungkap adanya tren overeducation yang dialami para sarjana di Indonesia. Overeducation merupakan fenomena ketika seseorang bekerja pada pekerjaan yang sebenarnya tidak membutuhkan tingkat pendidikan setinggi yang telah dimilikinya.

Berdasarkan laporan LPEM FEB UI, sekitar 8,01 juta lulusan sarjana di Indonesia bekerja pada posisi yang tidak sesuai dengan kualifikasi pendidikan mereka atau berada di bawah standar. Data tersebut dinilai menjadi alarm serius karena menunjukkan adanya kesenjangan antara sistem pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja nasional.

“Fenomena ini menunjukkan pertumbuhan tenaga kerja terdidik lebih cepat daripada penciptaan lapangan kerja yang membutuhkan keterampilan tinggi,” ujar Lestari.

Lestari menilai salah satu persoalan yang menyebabkan kondisi tersebut adalah masih lemahnya hubungan antara program pendidikan, kompetensi yang dimiliki lulusan, dan kebutuhan para pemberi kerja.

Oleh karena itu, menurutnya, diperlukan sinergi secara kolektif untuk menata kembali sistem pendidikan agar lebih selaras dengan kebutuhan ekonomi. Namun, penyesuaian tersebut tetap harus dilakukan tanpa mengesampingkan nilai-nilai kebangsaan.

Dia juga menilai perlu ada perencanaan yang matang antara perluasan akses terhadap pendidikan tinggi dan penciptaan lapangan kerja profesional yang produktif.

“Keberhasilan pendidikan tinggi tidak cukup diukur dari jumlah lulusan, tetapi dari kemampuan mereka untuk berkontribusi secara optimal dalam memperkuat fondasi pertumbuhan perekonomian nasional,” tutupnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news detaktribe.com.